Sabtu, 08 Juli 2017

Kekuatan Ibadah Sebagai Jalan Ikhtiar


Ibadah kepada Allah, adalah ikhtiar terbaik dalam mencari dunia
udah baca baik-baik kisah Pemuda A dan B sebelum tulisan ini? Untuk dapat mengikuti tulisan bagian ini, Anda harus membaca dulu tulisan sebelumnya.
Lihat, Pemuda A mencari jalan untuk mendapatkan motor yang diinginkannya dengan cara dunia yang biasa. Sedang Pemuda B dengan cara ibadah. Dua-duanya dapat. Si Pemuda A dapat dunianya, sebab memang Allah sudah menentukan janji dan ketetapan-Nya. Tapi kemudahan lebih Allah berikan kepada si Pemuda B.
Sesunguhnya, bila si B, sejak ber-bus ria, sudah beribadah dengan baik… dan tidak ada angan-angan baginya untuk memiliki motor, baik sebab dia mengukur kemampuan dirinya apalagi sebab syukurnya, maka Allah tetap akan memberikan “fasilitas” motor buatnya. Tanpa harus dia angan-angankan, dan tanpa harus juga dicari-cari. Tentu menjadi keutamaan bagi si B, dengan sebab riyadhahnya itu.
Misal, si B dengan tulusnya, di tengah kesibukannya, dia ngurusin ta’lim di kantornya. Dan atau selama di bus, dia banyak berzikir, banyak membaca qur’an (cukup di dalam hati, atau sedikit disuarakan tapi dengan tidak membuat orang terganggu), insya Allah, Allah akan memperhatikan. Ibarat seorang karyawan bekerja pada satu perusahaan, maka bila karyawan tersebut baik kerjanya, maka karir pun akan naik. Seiring dengan naiknya karir tersebut, maka fasilitas pun akan berbeda.
Maka jadilah wahai diriku, wahai saudaraku, orang yang menjadikan ibadah sebagai sentra gerakan dan pikiran. Jangan semata hanya mengandalkan ikhtiar dunia saja. Tapi tempuhlah jalan ibadah. Kalaupun harus membanting tulang dan peras keringat, nawaitu awalnya, tetap ibadah. Dan jangan lupa baca basmalah untuk mengawali hari-hari kerja dan usahanya.
Berikut beberapa tips untuk disebut memiliki nawaitu ibadah:
1. Membuktikan bahwa hasil usaha adalah untuk Allah; Tidak membawa hasil usaha kepada keburukan dan jalan maksiat, membawa hasil usaha untuk menghidupi keluarga agar bisa beribadah dan hidup dengan baik, bersedekah, dan lain-lain kebaikan.
2. Tidak melupakan hak-hak Allah, paling tidak yang wajib-wajib. Syukur-syukur bisa memenuhi yang sunnah-sunnahnya.
3. Membaca basmalah di awal, dan hamdalah di akhir.
Sederhana, tapi yang sederhana ini yang menjadikan hidup kita bernawaitu ibadah. Dan sebenernya, apa yang disebut ini, hanya urusan men-switch-on-kan saja langkah. Toh, baik nawaitu maupun tidak nawaitu, seorang yang baik akan menghidupi keluarganya dengan rizki yang Allah berikan.
Aduhai alangkah sederhananya. Dengan meniatkan segala ikhtiar kita sebagai ibadah, sudah menjadi ibadah. Alhamdulillah, betapa rahman dan rahimnya Allah.
Ibadah itu mudah. Niat adalah awalnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BILA INFORMASI KLINIK KAMI INI BERMANFAAT UNTUK ANDA SEGERA BERITAHU SAUDARA ANDA, BILA KLINIK KAMI MEMBUAT ANDA KECEWA BERITAHU KAMI SEGERA.
KLIK N SHARE