Sabtu, 08 Juli 2017

Semestinya Tidak Usah Cape


Karena ketiadaan ilmu, seringkali manusia cape ketika berikhtiar menggapai sesuatu. Ketiadaan ilmu yang paling berbahaya adalah ketiadaan ilmu tentang tauhid: Tentang Allah.
ebutlah pemuda A dan B. Dua-duanya teramat kepengen memiliki motor. Mengingat dua-duanya harus menempuh perjalanan yang tidak ringan untuk menuju kantornya masing-masing. Namun perjalanan keduanya, adalah perjalanan yang berbeda. Yang satu, menempuh perjalanan ikhtiar bumi, perjalanan biasa. Dan yang satunya lagi, menempuh perjalanan yang berbeda, perjalanan ikhtiar langit.
Pemuda A, menyisihkan dari gaji yang ia dapatkan seratus ribu rupiah setiap bulannya. Ia menarget, dalam 10 bulan, ia harus lepas dari kondisi mengejar bus, pengap di dalam bus, berhimpit-himpitan dalam bus, dan keadaan-keadaan tidak mengenakkan sebab menempuh perjalanan ke kantor dengan menggunakan bus. Ada apa dengan target 10 bulan tersebut? Rupanya, DP motor, atau uang muka motor, dari motor yang ia inginkan, adalah sebesar Rp. 1jt. Dan Rp. 1jt ini bisa ia miliki bila ia menyisihkan Rp. 100rb setiap bulannya selama 10 bulan.
Kalau Luqman Hakim jabarkan, demikian:
DP kredit motor : 1jt
Rupiah yang bisa disisihkan : 100rb/bl.
Untuk mencapai sejumlah DP : 10 bulan.
Maka begitulah si pemuda A ini menempuh jalannya. Dia menabung Rp. 100rb/bulan untuk bisa ia memiliki uang DP sebesar Rp. 1jt. Kelak, DP ini akan membuatnya memiliki impiannya: Sebuah motor yang bisa membebaskannya dari bus dengan segala suka dukanya.
Apa ada yang salah dengan cara si Pemuda A ini mencapai impiannya?
Tidak ada yang salah dengan cara si pemuda A ini. Luqman Hakim pun tidak berani menyalahkannya. Tapi amboi… menurut Luqman Hakim, alangkah cape nya si Pemuda A ini.
Loh koq cape?
Si Pemuda A-nya saja tidak merasa cape. Dia “enjoy” dengan perjalanannya mencapai mimpinya itu. Ia tidak merasa cape.
Ya, terang saja. Sebab si Pemuda A ini tertutup rasa capenya dengan mimpi ingin memiliki motor. Dan dia punya harapan, bahwa di bulan ke-11 ia bisa say goodbye kepada bus, sebab sudah naik motor, dan naik motornya motor sendiri lagi. Belum bayangan kegagahan. Tertutup dah rasa letihnya harus menyisihkan Rp. 100rb per bulan. Gitu. Apalagi barangkali, begitu kata sebagian orang, si Pemuda A ini bisa memasukkan nilai ibadahnya di keseharian kerjanya. Bukankah rasa capenya menjadi ibadah bagi dirinya?
Terserah aja sih. Namanya juga pilihan. Silahkan dipilih jika Anda merasa nyaman dengan jalan tersebut.
S
Tapi mari kita lihat. Ada lagi alasan kenapa Luqman menyebut Pemuda A ini “cape”. Lihat saja, niatnya saja sudah kredit. Dia tempuh perjalanan 10 bulan, “hanya” untuk mencapai satu titik yang namanya “Uang Muka”. Itu berarti dia masih harus mencicil lagi selama 3(tiga) tahun. Nah, cape kan?
Koq yakin nyicilnya bakal selama 3(tiga) tahun?
Ya, begitulah jalan pikiran Pemuda A. Kira-kira. Kenapa 3(tiga) tahun? Sebab dia hanya menghitung secara normatif, bahwa dia akan mengalihkan biaya naik busnya, jadi biaya angsuran motor. Ke-ukur. Begitulah kira-kira Luqman menyebut kondisi si Pemuda A tersebut.
Lalu bagaimana supaya tidak cape?
Supaya tidak cape, lihatlah cara si Pemuda B, dan ikuti.
Langkah si Pemuda B ini, bukan langkah ikhtiar dunia belaka, tapi Luqman Hakim menyebutnya lebih sebagai sebuah ikhtiar langit. Perjalanan spiritual.
Memangnya apa yang dilakukan si Pemuda B?
Pemuda B, tahu, bahwa segala upaya, harus melibatkan Allah. Maka dia tidak membeli motor itu dengan uangnya. Tapi dengan perilakunya kepada Allah. Alias “dibeli” dengan ibadahnya:
1. Dia menggunakan kekuatan doa, lapor kepada Allah lewat munajat, bahwa dia butuh motor supaya perjalanannya ke kantor tidak melelahkan.
2. Dia menetapkan niat ibadah bila nanti bisa memiliki motor. Dia akan punya lebih banyak waktu untuk mengaji, krn lebih hemat waktu dg naik motor ketimbang naik bus. Dia pun meniatkan akan lebih banyak silaturahim ke kawan-kawan dan saudara-saudaranya dengan motornya, dan seterusnya.
3. Dia bersedekah untuk menuju keridhaan Allah atas ikhtiarnya mendapatkan motor. Sebenarnya Luqman Hakim lebih suka menyebutnya, “Pemuda B ini bersedekah untuk membeli motornya”. Jumlah sedekahnya kurang lebih sama dengan jumlah tabungan si A, seratus ribu per bulan juga.
Bentuk penjabarannya kira-kira demikian:
Target : Bukan DP. Tapi langsung motornya. Sebut saja 10jt.
“Kewajiban sedekah : 10% dari 10jt. Yaitu Rp. 1jt, atau yang senilai.
Target sedekah : 1jt
Berapa bulan? : Dicapai dalam 10 bulan, bila sebulannya 100rb.
Bila sudah sampai 1jt : Motor senilai akan diberikan Allah, dengan cara-Nya.
Darimana? : Perkalian 10x lipat sedekahnya.
Bisa di bawah 10bl? : Bisa. Apabila si Pemuda ini benar melengkapi dg ibadah lainnya.
Lihat bedanya dengan Pemuda A.
Si Pemuda A, begitu nyampe bulan ke-10, terkumpul uangnya 1jt. Dan dia membawa uang 1jt-nya itu ke showroom motor sebagai DP. Dan dia masih mengangsur 3 tahun. Sedang si Pemuda B, karena targetnya langsung 10jt, maka dalam hitungan bulan yang relatif sama, ia sudah mendapatkan motor yang diinginkannya, tanpa perlu mengangsur lagi.
Baiklah, bila penjelasan ini masih dirasa kurang, Luqman Hakim masih berkenan memberikan kalimat lainnya: Si Pemuda B ini tidak cape. Sebab bila si Pemuda A menyisihkan uang untuk menabung supaya terkumpul Uang Muka, tidak demikian dengan Pemuda B. Dia menyisihkan uangnya untuk sedekah. Hasilnya memang beda. Bila Pemuda A, setelah uangnya terkumpul sejumlah DP, dia bawa uangnya ke showroom, tidak demikian dengan Pemuda B. Pemuda B ini tidak perlu ke showroom, sebab Allah sudah memberinya motor, dalam hitungan bulan yang tidak jauh dengan si Pemuda A.
Dan sebab si Pemuda A membayar ke showroom dan showroom membayarnya lagi ke leasing, maka si Pemuda A masih harus membayar cicilannya. Pemuda B, mendapatkan kelapangan dari Allah. Dia tidak harus membayar cicilan apapun, kecuali bahwa Allah Yang Maha Menyayangi Hamba-Nya menghendaki dia istiqamah dan kalau perlu meningkatkan lagi ibadahnya sesuai dengan niatannya. Motor bagi Pemuda B, dari Allah. Pemuda B mendapatkannya, dengan cara-cara-Nya.
Sebagai kalimat penutup sesi tulisan ini, bila ada cara yang tidak membuat kita cape, tidak membuat kita letih, mengapa masih memilih jalan yang sukar dan menyulitkan diri?
Libatkan Allah, maka ikhtiar kita akan jadi mudah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BILA INFORMASI KLINIK KAMI INI BERMANFAAT UNTUK ANDA SEGERA BERITAHU SAUDARA ANDA, BILA KLINIK KAMI MEMBUAT ANDA KECEWA BERITAHU KAMI SEGERA.
KLIK N SHARE